Ruwat Bumi, Tradisi Syukur Warga Desa Paweden
Ruwat Bumi atau Merdi Desa merupakan tradisi tahunan yang dilaksanakan sebagai bentuk ungkapan rasa syukur masyarakat kepada Tuhan Yang Maha Esa atas hasil bumi, keselamatan, dan keberkahan yang diterima sepanjang tahun. Tradisi ini sudah mengakar kuat dalam kehidupan warga, khususnya di wilayah Jawa Tengah.
Di Desa Paweden, Kecamatan Karangkobar, Kabupaten Banjarnegara, tradisi ini rutin dilaksanakan setiap tahun. Pada tahun 2025, acara Ruwat Bumi dilaksanakan pada hari Rabu Wage, 16 Juli 2025, bertepatan dengan hari yang dianggap baik menurut kepercayaan masyarakat Jawa. Kegiatan ini berlangsung di halaman Balai Desa Paweden dan dihadiri oleh warga desa, tokoh masyarakat, tokoh agama, serta berbagai elemen lainnya.
Source: KKN-T Inovasi IPB Desa Paweden 2025
Rangkaian Acara Penuh Makna
Acara Ruwat Bumi dibuka dengan sambutan dari Kepala Desa Paweden, Bapak Nislam Suharno, yang menyampaikan apresiasi atas kekompakan dan gotong royong warga dalam menjaga tradisi dan keharmonisan desa. Setelah itu, dilanjutkan dengan tausiyah dari tokoh agama setempat, yang memberikan pesan spiritual tentang pentingnya rasa syukur dan menjaga hubungan baik antarwarga serta lingkungan sekitar.
Usai prosesi pembuka, acara dilanjutkan dengan makan bersama sebagai simbol kebersamaan dan rasa syukur. Makanan yang disajikan berupa tumpeng lengkap dengan berbagai lauk di sekelilingnya, seperti ayam utuh, capcay, mie, telur, tahu, dan urap. Hidangan ini dimasak secara gotong royong oleh warga dan menjadi pusat perhatian sekaligus pemersatu seluruh tamu yang hadir.
Meriah dengan Kesenian Kuda Lumping
Suasana semakin meriah saat siang menjelang, karena acara dilanjutkan dengan hiburan kesenian Kuda Lumping atau Jaran Kepang. Pertunjukan ini berlangsung dari siang hingga malam hari dan sukses menghibur masyarakat yang hadir. Tahun ini, pertunjukan dibawakan oleh dua tim kesenian, yaitu Tirta Kencana dan satu tim lainnya yaitu Tri Wahyu Budaya .
Source: KKN-T Inovasi IPB Desa Paweden 2025
Aksi para penari yang enerjik, atraksi mistis khas Kuda Lumping, serta iringan musik gamelan yang menghentak membuat suasana semakin hidup. Antusiasme warga sangat tinggi, terlihat dari kerumunan penonton yang tetap bertahan hingga malam hari. Bahkan, acara ini juga turut menggerakkan ekonomi warga karena banyak pedagang makanan dan jajanan yang membuka lapak di sekitar lokasi acara.
Melestarikan Tradisi, Menguatkan Identitas Desa
Ruwat Bumi Merdi Desa bukan hanya menjadi ritual tahunan, melainkan juga momentum memperkuat solidaritas warga, melestarikan budaya lokal, dan menggerakkan potensi ekonomi desa. Kehadiran kesenian tradisional seperti Kuda Lumping juga menjadi bagian penting dari upaya menjaga warisan budaya agar tetap hidup dan dikenal oleh generasi muda.
Semoga kegiatan seperti ini terus berlanjut di masa depan dan menjadi kebanggaan bagi seluruh warga Desa Paweden.